Asep dan Ujang| Bayi Kembar Yang di Bandrol 40 Juta

Sanggupkah Bayi Bayi mungil ini kelak menyayikan lagu berikut?

Kasih Ibu, Kepada Beta

Tak Terhingga, Sepanjang Masa

Hanya Memberi Tak Harap Kembali

Bagai Sang Surya, Menyinari Dunia

Bagi sebagian besar orang, memang benar kalau seorang Ibu adalah Lentera Jiwa, Pelita Hati, Pecinta Sejati dsb. Tetapi melihat kasus yang dialami oleh Bayi Kembar Asep dan Ujang, masih pantaskah ibu mereka mendapatkan gelar gelar tersebut?

Berikut beritanya:

Liputan6.com, Bogor: Ana hanya bisa menyesal. Wanita berusia 28 tahun itu sama sekali tak menduga niatnya mengurangi beban hidup malah dimanfaatkan oleh orang lain. Bayi kembarnya nyaris dijual orang lain seharga Rp 40 juta.

Kasus ini berawal ketika Ana melahirkan bayi kembar. Namun karena faktor ekonomi, dia menyerahkan bayi tersebut kepada orang lain. Ana merasa tak sanggup membesarkan bayinya karena sudah memiliki dua anak berusia 12 dan lima tahun yang juga memerlukan biaya.

Ana menyerahkan bayinya dengan harapan sang anak bisa memperoleh orangtua angkat yang mampu membesarkan dengan kasih sayang tulus. Belakangan dia terkejut karena mengetahui polisi menangkap MS, anggota sindikat penjual bayi. MS dibekuk saat hendak menjual bayi kembar Ana.

Ana menyambung hidup sebagai pembantu rumah tangga. Dia bekerja dari jam 07.00 pagi hingga 18.00 sore. Penghasilan bersihnya hanya Rp 300 ribu sebulan. Itulah sebabnya Ana merasa tidak mampu merawat si kembar dengan layak.

Saat ini Ana masih menumpang di rumah orangtuanya di sebuah gang di Kampung Parung Banteng, Katulampa, Bogor. Situasi tampak semakin sulit untuk Ana setelah ditinggal begitu saja oleh suaminya, Roni, yang bekerja sebagai kuli bangunan, beberapa bulan silam.(ULF)

Apapun alasannya, Pantaskah seorang Ibu memberikan anaknya kepada orang lain? Tidakkah hal seperti ini akan menjadi beban berkepanjangan bagi sang anak yang harus hidup dalam kebohongan meskipun bergelimang harta?

Janganlah kehidupan ekonomi yang dikambing hitamkan, diluar sana masih banyak Ibu Ibu berpenghasilan lebih rendah dengan pekerjaan yang jauh lebih berat dari pada Ibunya Si Ujang dan Asep.

Contoh dong, Para ibu ibu tua penggali sumur, Penambang pasir atau Batu Apung yang pekerjaannya beresikokan Nyawa tapi dengan tulus dan ikhlas mereka jalani demi anak anak mereka.

Heran, koq doyannya bikin anak tapi tak siap tanggung jawab buat sang anak. Mestinya kalau Doyan Bikin, Harus Doyan juga Ngidupin Anak.